Keabsahan 2 Lukisan Raden Saleh dan Perkembangan Pemahaman Sejarah Seni Rupa Indonesia

MUNCULNYA lukisan yang diberi judul deskriptif A family promenades along a path with two tigers in wait and the Borobudur in the background pada preview balai lelang Christie’s di Singapura, awal April yang lalu, mengagetkan para pencinta seni rupa yang hadir di sana. Pasalnya, karya itu mirip sekali dengan karya Raden Saleh yang diberi judul Lying in Wait yang sempat dilelang oleh balai lelang Sotheby’s di Singapura pada tahun 1999, dan sebelumnya juga pernah muncul dalam sebuah buku seni yang dikemas cantik dengan judul yang sangat puitis Ketika Kata, Ketika Warna (Jakarta: Yayasan Ananda). Lukisan yang muncul belakangan ini juga dianggap karya Raden Saleh dan telah direncanakan untuk dilelang di Hongkong pada tanggal 29 Mei 2005.

Memang, kedua lukisan itu menggambarkan subyek yang sama: seorang perempuan berkerudung putih menggendong anaknya dalam pelukannya di atas seekor kuda putih, ditemani seorang pria yang mengenakan sorban putih yang menuntun kuda tadi. Ikut bersama mereka, seekor anjing hitam mulai melihat bahwa ada dua harimau mengintai mereka di semak-semak. Di latar belakang, secara samar-samar tampak siluet Candi Borobudur akibat disinari matahari yang walaupun agak terhalang awan, berada tepat di atasnya.

Walaupun hampir persis sama, ada beberapa hal yang beda. Ukuran karyanya berbeda tipis, lukisan Lying in Wait yang dulu dijual di Sotheby’s Singapura berukuran 110 x 154,5 sentimeter, sementara lukisan A family promenades yang belakangan ditawarkan Christie’s di Hongkong berukuran 112 x 156 cm. Perbedaan lain yang nyata secara visual dari pengamatan sekilas pada reproduksi kedua karya pada katalog, di antaranya adalah bahwa pada versi Sotheby’s di latar belakang tepat di depan figur-figur utama terdapat bongkahan batu-batu, sedangkan di lukisan versi Christie’s sebuah sungai kecil melintasi bongkahan batu itu. Pada lukisan Lying in Wait sang pria itu tampak mengenakan kain sarung pendek, sementara pada lukisan A family promenades lebih nyata bahwa yang dikenakannya adalah celana yang panjangnya hampir selutut.

Berdasarkan pengamatan sekilas pada apa yang tampak pada reproduksi kedua karya di katalog, peneliti Helene Feillard melihat juga bahwa awan pada versi Christie’s tidak sebanyak versi Sotheby’s, dan dalam versi Christie’s juga tampak pada bagian kiri lukisan, sementara dalam versi Sotheby’s tidak tampak burung sama sekali. Ia juga melihat bahwa harimau dalam lukisan A family promenades sudah mengeluarkan kukunya, sementara dalam lukisan Lying in Wait kuku harimau itu belum tampak. Selain itu, ia juga mengamati bahwa kendati ada beberapa “kemiripan yang kuat dalam proporsi, sikap, dan ekspresi dari figur-figur dalam kedua lukisan”, namun selain itu juga ada beberapa perbedaan tentang cara dan arah pandang mereka dalam kedua komposisi itu, dan hal itu sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Sebagaimana karya-karya Realis abad ke-19, karya Raden Saleh lazimnya membaurkan semua elemen, terutama sapuan kanvas menjadi bagian dari lukisan, sehingga tidak tampak lagi sapuan cat yang muncul bebas sebagai efek dari sapuan kuas sehingga secara optis yang tampak pada lukisan tidak jauh berbeda dengan apa yang tampak di dunia nyata. Itulah yang dimaksud dengan Realisme. Jika diamati dari reproduksi di katalog, memang karya A family promenades tampak cukup realis. Namun, dari hasil pengamatan yang cukup teliti pada preview Christie’s di Singapura, tampak bahwa lukisan A family promenades itu digarap dengan banyak sapuan kuas yang tidak terlalu halus secara cukup bebas tanpa upaya untuk memperhalusnya dan membaurkannya ke dalam kanvas sehingga lukisan itu tampak tidak konsisten dengan karya-karya Raden Saleh yang lain. Sayangnya, lukisan Lying in Wait terakhir tampil di hadapan umum pada preview lelang Sotheby’s lebih dari lima tahun yang lalu sehingga sulit untuk membandingkannya secara fair.

Namun, pada katalog Christie’s, tertera bahwa pakar sejarah seni rupa Belanda Drs W F Rappard, dari lembaga Rijksbureau voor Kunsthistorische Documentatie (Institut Diraja Belanda untuk Dokumentasi Sejarah Seni) telah mengautentikasi lukisan itu. Hal itu juga didukung oleh ulasan Marie-Odette Scalliet, kurator koleksi Asia Tenggara dan Oceania di Perpustakaan Universitas Leiden, yang rupanya juga tidak meragukan karya itu, dan bahkan menekankan bahwa Raden Saleh beberapa kali melukis dua versi dari pemandangan atau bahkan peristiwa yang sama.

Menurut penelitian Scalliet, selain melukis dua versi dari pemandangan meletusnya Gunung Merapi, Raden Saleh juga pernah melukiskan Berburu Rusa untuk Raja Belanda dan versi yang lain atas karya itu untuk seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Ternyata sang pelukis bahkan telah merekam rincian yang cukup rinci tentang hal itu dalam surat menyuratnya. Namun, perlu diperhatikan bahwa hingga kini belum ditemukan catatan dalam surat menyurat Raden Saleh yang secara spesifik mengacu pada kedua karya yang pada saat ini menjadi pusat perhatian dan pokok bahasan kita. Dari penelitiannya, Scalliet menyebutkan bahwa setidaknya ada 19 lukisan Raden Saleh yang muncul dalam pameran Kolonial Internasional pada tahun 1883 di Amsterdam, dan empat dipinjamkan oleh Pangeran Ernest II, penguasa kawasan Saxony-Coburg-Gotha, sahabat karib Raden Saleh. Satu di antara empat lukisan itu, yang dideskripsikan sebagai “pemandangan Oriental dengan dua harimau di latar depan”, diperkirakan mengacu pada salah satu dari dua versi lukisan yang menjadi pusat kontroversi ini.

Walaupun Rappard sudah melihat dua lukisan ini, rupanya ia melihat Lying in Wait sekitar akhir tahun 1980-an, pada saat lukisan itu masih berada dalam kepemilikan Dr W G Tan. Diakuinya dalam sebuah surat bahwa ia pun mengenal lukisan A family promenades, dan berdasarkan laporan penelitian restorasi atas karya itu ia menganggap bahwa karya itu memang merupakan karya asli Raden Saleh.

Memang banyak kemungkinan atas kedua karya yang dianggap sebagai karya Raden Saleh ini. Mungkin saja salah satu karya saja, entah yang dulu dijual Sotheby’s atau yang kini akan ditawarkan Christie’s, yang asli dan yang lain palsu. Ada juga yang memperkirakan lukisan A family promenade adalah replika yang dibuat di Rusia. Pendapat bahwa lukisan itu kemungkinan adalah karya de Cocq yang dikenal sebagai “murid” Raden Saleh, juga tidak dapat diremehkan. Namun, jika berdasarkan pengamatan Scalliet bahwa Raden Saleh beberapa kali melukis dua versi dari lukisan yang sama, memang mungkin saja kedua karya itu asli.

Yang jelas, para kolektor yang berminat pada karya-karya Raden Saleh, terutama pemilik karya Lying in Wait, menuntut kepastian atau paling tidak penjelasan yang lebih meyakinkan tentang kedua karya ini. Betapa tidak, kolektor itu membayar harga 2,4 juta dollar Singapura, belum termasuk premium dan lain-lain untuk lukisan itu. Karya itu menduduki peringkat ke-2 untuk karya seni rupa Indonesia termahal. Tentu baginya, claim spesialis seni lukis Asia Tenggara dari Christie’s bahwa balai lelang itu telah melakukan penelitian yang cukup eksentisif atas karya tersebut tidaklah cukup, apalagi mengingat data penelitian itu tidak dapat diakses dengan mudah. Data yang lebih lengkap perlu diserahkan. Ketika laporan restorasi yang menjadi dasar keputusan autentikasi Rappard dapat diakses, baru dapat diketahui bahwa laporan itu sebenarnya hanya membuktikan bahwa lukisan yang diteliti dianggap oleh ahli restorasinya sebagai karya Raden Saleh karena menggunakan bahan-bahan yang lazim digunakan pada abad ke-19. Tentunya, kendati laporan itu dilakukan secara sangat ilmiah, teliti dan lengkap, tidak ada yang secara definitif membuktikan hubungan karya itu dengan Raden Saleh.

Lebih lanjut, perlu dipertanyakan yang manakah dari dua versi lukisan itu yang sebenarnya berasal dari koleksi Pangeran Ernest II dari kawasan Saxony-Coburg-Gotha dan kemudian dipamerkan pada pameran Kolonial Internasional di Amsterdam tahun 1883? Dr W G Tan, mantan pemilik Lying in Wait, konon membeli lukisan tersebut dari seorang dealer terkenal di Belanda, namun lebih jauh dari itu tidak banyak informasi yang diketahui tentang lukisan tersebut.

Pemilik karya Lying in Wait, seorang pengusaha yang bermukim di Singapura, mengharapkan agar kedua karya itu bisa diteliti oleh panel yang terdiri dari pakar-pakar internasional. Sedianya Christie’s keberatan untuk menarik lukisan tersebut dari penawaran dalam lelang hari Minggu ini. Namun, sehari sebelum lelang akhirnya lukisan itu ditarik untuk sementara sehingga kini ada kemungkinan bahwa lukisan itu bisa diperbandingkan secara langsung, bersebelahan satu sama lain oleh para pakar sehingga dapat muncul kepastian tentang kedua karya tersebut. Hal itu tinggal menunggu persetujuan dari pemilik lukisan tersebut untuk diteliti panel internasional itu nanti. Sekalian, sejarah kepemilikan dari karya tersebut juga dapat ditelusuri secara lebih teliti.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah vonis tentang ke-”asli”-an atau ke-”palsu”-an karya-karya yang dipermasalahkan. Terlalu sering dan terlalu gampang tokoh-tokoh yang merasa dirinya memahami permasalahan seni rupa di Indonesia berteriak palsu atau asli, tanpa memberikan alasan yang meyakinkan, yang berdasarkan analisa yang mendalam atas karya itu. Justru yang paling kita perlukan adalah pemahaman tentang mengapa sebuah karya dianggap palsu atau asli. Hal itulah yang perlu diinstitusionalisasikan agar pengetahuan masyarakat seni rupa Indonesia semakin berkembang. Pada saat ini kita harus mengakui bahwa pemahaman kita atas sejarah seni rupa kita sendiri masih sangat rendah. Oleh karena itu, kita sambut baik keputusan Christie’s untuk menarik sementara lukisan tersebut dari pelelangan mereka, dan kita nantikan diadakannya panel internasional tentang dua karya Raden Saleh yang menjadi kontroversi ini. Dalam panel tersebut diharapkan dapat berkembang dialog, selain perdebatan antara para pakar, baik dari Timur, terutama dari Indonesia, maupun dari Barat, yang sekaligus dapat menambah pengetahuan kita tentang salah satu perupa terpenting dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Amir Sidharta Kurator Museum Universitas Pelita Harapan. Dalam koleksi lembaga penelitian seni rupa itu, terdapat tiga lukisan karya Raden Saleh.

sumber: kompas

About these ads

9 Comments

  1. natalia said,

    January 21, 2008 at 11:29 am

    pak, saya boleh tanya ga?saya punya lukisan, yang lumayan lama. dilukis di atas kaca…pernah ada seorang pelukis dari belanda (ibu noordam), katanya lukisan ini dibuat sekitar th.1700an.terus terang kami buta soal lukisan, jadi bisakah anda membantu saya dlm hal ini?

    terima kasih.

  2. zuliant said,

    July 27, 2008 at 8:01 pm

    jual lukisan karya raden saleh dengan judul: Sri Sultan HB Vi
    Conte
    peninggalan dari kraton jogja…asli…tangan kedua..
    ukuran 55×75
    bila berminat hubungi : saya di .:

    zuliant_02@yahoo.com
    website: http://zuliantart.co.nr/
    no telp; 0274-6811931 & 0274-4477197

    terimakasih.

  3. dekriss007 said,

    September 4, 2008 at 12:11 pm

    mo…jual…lukisan….pangeran cornel….dari sumedang….ukuran…1,5 X1 bila…berminat…hub….saya….no…tlpn…022.6072906……&…..081 395 395 301……terimakasih

  4. gigigigigi said,

    September 24, 2008 at 3:37 am

    ass..

    pak, saya pake` artikel ini buat tugas ya,,,
    sumbernya saya cantumin koq..

    wassalam.

  5. dragonfly said,

    October 7, 2008 at 6:27 am

    dijual lukisan raden saleh, tema gambar SULTAN HAMENGKU BUWONO VII

    naik kuda, dengan harga 1,8 Miliar Rupiah, bila berminat silahkan hubungi

    email saya

  6. dragonfly said,

    October 7, 2008 at 6:36 am

    dijual lukisan raden saleh, tema gambar SULTAN HAMENGKU BUWONO VII

    naik kuda, dengan harga 1,8 Miliar Rupiah, bila berminat silahkan hubungi

    email saya di dragonfly_9090@yahoo.co.id

  7. edhy susanto said,

    January 30, 2012 at 2:23 am

    saya punya lukisan sri sultan HB VII karya raden saleh,asli dan bersertifikat,untuk di jual yang berminat hub 081333178878

  8. edhy susanto said,

    January 30, 2012 at 4:50 am

    Dijual lukisan Sri sultan HB VII Lenggah Dampar ukuran 150 x 105cm

    Tahun 1897 Bersertifikat. Karya Raden Saleh. yang berminat hub email

    esa_sjtera@yahoo.com hp 081333178878.

  9. May 25, 2014 at 12:57 am

    I am really loving the theme/design of your site. Do you ever run into any
    internet browser compatibility problems? A small number of my
    blog visitors have complained about my site not operating correctly in Explorer but looks great in Chrome.
    Do you have any suggestions to help fix this issue?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: