Cacat Epistemologi Wacana Seni Rupa Indonesia

Agung Hujatnikajennong

Menarik menyimak ulasan Aminudin Th Siregar berjudul Seni Meramu Bambu yang dimuat di kolom Pergelaran harian Kompas tanggal 16 Agustus 2003. Ditilik dari satu-dua segi kaidah penulisan kritik seni rupa, tulisannya tergolong baik karena cara bertuturnya lancar dan dapat menyampaikan pernyataan maupun pertanyaan yang kritis.

Ulasan Aminudin tidak saja berintensi untuk menyasar aspek-aspek problematik dari pameran /’bæmbuw/ yang berlangsung di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, tanggal 3 Agustus- 3 September 2003, namun juga memancing persoalan yang lebih luas.

Tulisan ini hendak menanggapi kritik Aminudin terutama dalam kaitannya dengan kurasi pameran. Bukan saja karena gagasan dan pelaksanaan kuratorialnya ditangani oleh saya, tetapi karena sejauh pengamatan, paling tidak dalam kurun satu tahun terakhir ini, jarang sekali penerbitan tulisan yang secara intens menghadirkan diskusi atau perdebatan tentang praktik kuratorial. Seperti diketahui, praktik kuratorial sesungguhnya sangat berpengaruh pada latar belakang, perwujudan presentasi sebuah pameran seni rupa, beserta respons dalam bentuk perbincangan publik yang dihasilkannya.

Ada hal yang menarik untuk ditanggapi berkenaan dengan peristilahan epistemic lack yang disinggung dalam tulisan Aminudin.

Menurut saya, peristilahan itu menyangkut hal yang jauh lebih “berat”, mendesak dan bisa memancing diskusi yang lebih panjang. Untuk para pembaca Michel Foucault dan beberapa penganutnya-khususnya Paul Rabinow-istilah itu tentulah tidak asing. Secara sederhana, epistemic lack merupakan “keadaan defisiensi (kekurangan, ketidaklengkapan) yang bersifat epistemologis yang berimplikasi pada subyek dan disebarkan melalui praktik wacana beserta relasi kekuasaan yang menyertainya”.

Tidak salah jika Aminudin menyebut “miskin wacana” (lack of discourse) sebagai akibat dari epistemic lack karena pada dasarnya apa yang disebarkan melalui wacana adalah cerminan konstruksi sistem pengetahuan tertentu yang mendasarinya. Dari sudut pandang ini, lack of discourse bukanlah suatu keadaan yang tidak lengkap yang disebabkan karena hambatan secara kuantitatif, namun karena praktik kekuasaan yang disebarluaskan melalui pengetahuan (savoir) yang sering kali menyebabkan suatu wacana menjadi miskin, cacat, kehilangan fungsi kritis, bahkan menyimpang dari telos (tujuan mulia)-nya. Demikianlah, asumsi-asumsi mendasar yang dibangun oleh tulisan Aminudin memang menyandarkan diri pada konteks yang lebih luas karena di situ sebuah pameran seni rupa dilihat sebagai sebuah praktik yang mengandung relasi kuasa.

Meski disisipi berbagai istilah yang (seolah-olah) filosofis, sungguh disayangkan bahwa tulisan Aminudin sesungguhnya tidak didasari dengan observasi dan analisis yang saksama terhadap pameran secara menyeluruh. Pembacaan dan pemahaman terhadap tulisan pengantar kuratorial dan pernyataan seniman yang tercantum dalam katalog pameran juga tampaknya sangat minim. Pertanyaan seperti: “…bagaimana caranya kita bisa menikmati dialog yang terjadi pada kedua perupa tersebut? Adakah petunjuknya?”, “…mengapa mesti memakai bambu? Berdialog dengan singkong, misalnya?”, atau pernyataannya yang menghubungkan pameran /’bæmbuw/ dengan modus penggabungan material tradisi dan modern sebagai apa yang disebutnya sebagai “pembelaan para seniman kontemporer”, dalam beberapa hal menunjukkan bahwa epistemic lack yang disinggung oleh Aminudin ternyata tercermin dalam tulisannya sendiri.< tulisannya dalam tercermin ternyata Aminudin oleh disinggung lack epistemic bahwa menunjukkan hal beberapa kontemporer?, seniman para ?pembelaan sebagai disebutnya apa modern dan tradisi material penggabungan modus dengan menghubungkan pernyataannya atau misalnya??, singkong, Berdialog bambu? memakai mesti ?…mengapa petunjuknya??, Adakah tersebut? perupa kedua pada terjadi dialog menikmati bisa kita caranya ?…bagaimana seperti: Pertanyaan minim. sangat tampaknya katalog tercantum pernyataan kuratorial pengantar tulisan terhadap pemahaman Pembacaan menyeluruh. secara saksama analisis observasi didasari sesungguhnya disayangkan sungguh filosofis, (seolah-olah) istilah berbagai>

Pameran /’bæmbuw/ pada mulanya digagas sebagai upaya untuk menghadirkan bambu sebagai “material” maupun “pokok-soal” (subject-matter), sebagaimana saya jelaskan dalam pengantar kuratorial pameran. Rasional pameran /’bæmbuw/, secara lebih mendasar, adalah bagaimana melihat keterkaitan antara persoalan gagasan, pilihan material, dan cara maupun bahasa ungkap yang digunakan oleh perupa sebagai suatu kesatuan yang berkaitan satu sama lain, tidak terpisahkan.

Perlu diluruskan bahwa sebenarnya tidak ada satu kalimat pun dalam pernyataan seniman maupun pengantar pameran /’bæmbuw/ yang menyebutkan intensi untuk melihat bambu sebagai material yang marjinal atau terpinggirkan.

Material bambu di sini dilihat sebagai salah satu material alam yang punya keterkaitan dengan konteks kebudayaan benda (material culture) di Indonesia, terutama dengan kepercayaan fetishism yang hidup dalam kepercayaan masyarakat tradisional. Bambu sejak dahulu hingga kini masih tetap relevan sebagai material yang dimanfaatkan untuk benda-benda fungsional.

Sebagai material, bambu adalah tanaman yang punya potensi dan karakter fisiologis yang sangat spesifik yang tidak dipunyai oleh material lain. Tingkat kelenturan, warna, kualitas permukaan, gesture, kerapatan serat, bentuk buluh, panjang ruas dan lain-lain merupakan aspek-aspek yang “dianugerahkan” oleh alam. Sebagai sebuah material an sich, bambu sesungguhnya punya beberapa kekhususan yang menyebabkan ia menuntut cara- cara pengolahan yang khusus pula.

Gagasan JD Avianto dalam karya Keseleo adalah membiarkan karakter-karakter bambu tersebut “berbicara sebagai dan tentang dirinya sendiri”. Pengolahan bentuk dengan cara memotong, membengkokkan, memecah, dan menyambung bambu-bambu dilakukannya tanpa menghilangkan karakter-karakter alamiahnya.

Barangkali hanya karena pengamatan yang dilakukan sepintas lalu yang menyebabkan kritikus Aminudin tidak mampu membaca sejauh mana dialog yang terjadi antara seniman dan material alam tersebut.

Karena diperlakukan sebagai material an sich, karya Keseleo bisa hanya berhenti sebagai bambu. Ia bisa saja dianggap tidak mengalami “pergeseran teks”, sebagaimana disebutkan Aminudin.

Namun, bukankah pergeseran teks hanya akan terjadi apabila pembacaan terhadap karya dikaitkan dengan berbagai konteks yang menyertai karya tersebut? Judul Keseleo sebetulnya menjadi referen lain bagi terbentuknya “teks” yang lanjut pula bagi karya ini. Ia mengindikasikan perlakuan yang lain dari seniman terhadap material bambu. Elemen bambu di sini disamakan dengan makhluk bernyawa, selayaknya manusia.

Dalam karya tersebut, terdapat berbagai aspek penghargaan terhadap keselarasan manusia dan alam-yang dalam kepercayaan masyarakat industri sudah jarang sekali ditemukan. Dalam masyarakat industri dan konsumer seperti sekarang, alam haruslah tunduk pada manusia dan dapat diperlakukan dengan cara yang semena-mena.

Sungguh mengherankan bagi saya kalau kritikus Aminudin juga tidak mampu membaca intensi apa yang tampil dalam karya-karya Handy Hermansyah.

Meskipun sama-sama menggunakan bambu, karya- karya Handy memang berbeda dengan karya-karya JD Avianto. Bambu dalam karya-karya Handy dilihat sebagai sebuah pokok-soal yang berkaitan dengan wacana tentang “keragaman”.

Paparan Aminudin tentang karya Rumpun Bambu (Mengembalikan Nama pada Bendanya) luput mengemukakan bagaimana Handy menorehkan teks verbal-berupa tulisan kata-kata yang digunakan oleh berbagai suku di Indonesia untuk menyebut “bambu”-di atas objek bambu yang konkret. Karya ini sesungguhnya berintensi menampilkan tegangan antara teks verbal dan visual, atau dalam wacana semiotika: antara berbagai penanda yang berbeda-beda dan referen yang (ternyata) sama.

Anehnya, dalam mengulas karya tersebut Aminudin malah menyinggung narasi tentang bambu dalam agama Buddha, yang memang jelas-jelas tidak punya keterkaitan sama sekali dengan pernyataan seniman, atau dengan pengantar kuratorial pameran.

Di sini kritik Aminudin yang “kejat” sesungguhnya tergolong “nyasar” atau malah “salah bidik”, karena menyinggung persoalan yang sama sekali tidak tampil sebagai penanda dalam pameran.

Kalau pengamatan dan investigasi yang menyeluruh terhadap sebuah pameran saja belum bisa dilaksanakan, penulisan kritik seni rupa di Indonesia pasti akan melahirkan praktik-praktik wacana lain yang juga cacat secara epistemologis.
< cacat lain wacana praktik-praktik melahirkan akan pasti Indonesia rupa seni kritik penulisan dilaksanakan, belum sebuah menyeluruh investigasi>

Tentang epistemic lack yang disebut Aminudin sebagai “belum selesai” sesungguhnya bisa dilacak apabila ia mau dengan itikad baik melakukan analisis lebih jauh-mungkin dengan metode “arkeologis” atau “genealogis” seperti dianjurkan Foucault-meskipun hal itu bukan pekerjaan yang mudah.

Untuk melacak epistemic lack seseorang harus mau membuka arsip-arsip kesejarahan dan berbagai penulisan yang pasti membutuhkan intensitas yang luar biasa. Upaya inilah yang barangkali sangat jarang dilakukan para penulis ataupun kritikus di Indonesia, bahkan minat ke arah sana pun tampaknya sangat minim. Berbagai praktik wacana-termasuk penulisan kritik dan penelitian seni rupa-sekarang ini cenderung tidak menunjukkan intensi-intensi kritis. Pembongkaran dan analisis terhadap suatu wacana bukanlah sesuatu yang diprioritaskan.

Di sisi lain, kita juga dihadapkan pada permasalahan yang klasik: minimnya ruang penulisan yang memadai bagi dialog-dialog kritis tentang seni rupa sering kali menyebabkan penulisan-penulisan yang terbit di berbagai media massa di Indonesia hanya menyerupai kelebatan-kelebatan pikiran yang saling terputus satu sama lain, seolah-olah tidak pernah selesai secara konstruktif.

Peran akademi tinggi seni rupa yang seharusnya bisa memproduksi jurnal-jurnal-yang diandaikan bisa membangun “konsensus”-juga cenderung nihil. Di manakah tempat untuk membangun wacana yang berkelanjutan?

Tidaklah mengherankan kalau setiap orang sekarang ini, tanpa harus bersusah payah melakukan analisis genealogis, bisa dengan mudahnya mengklaim adanya kecacatan ataupun keterputusan (rupture) secara epistemologis dalam wacana seni rupa Indonesia. Melihat semua ini barangkali kita cuma bisa diam dan memandangi bangunan sejarah seni rupa Indonesia dengan sikap yang pesimistis.

Agung Hujatnikajennong Staf Pengajar FSRD ITB, Kurator Selasar Sunaryo Art Space

sumber: kompas 

1 Comment

  1. mindstreet said,

    November 5, 2007 at 2:55 am

    halo , salam kenal, boleh kita bertukar link😀, secara memiliki interest yang sama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: