Re: Siapakah Aku?

Oleh AMINUDIN TH. SIREGAR

MASIHKAH kita mau mempertanyakan: adakah penjelasan-penjelasan yang masuk akal yang akan membuktikan bahwa kita punya seni rupa modern? Masihkah kita harus memercayai nalar sejarah yang mengatakan bahwa seni rupa modern kita adalah seluruh perbincangan yang pernah terjadi dalam satu babakan historis tertentu? Kalau benar bahwa modernitas ditandai oleh munculnya “aku” (subjek), maka kapan kesadaran tentang sang “aku” ini dimulai? Lalu, siapakah sang “aku” dalam modernitas seni rupa Indonesia?

Tidak terlalu salah jika kita akan mengulang (reply) kembali pernyataan yang pernah dilontarkan oleh S. Sudjojono (1913-1986) mengenai sang “aku”. Pelukis berjuluk Bapak Seni Rupa Modern Indonesia ini pernah menulis, “Barangkali kamu terpaksa berkorban terbakar kelak karena panas matahari, sakit dada ta’ bernapas atau lapar ta’ makan-makan, tetapi mati kamu pulang ke negeri yang baka ta’ sia-sia.. berani hidup, berani melarat, cinta kebenaran, berjuang untuk kebenaran, meskipun musuh dewa sekalipun, tetap sederhana, tetapi kalo perlu angkuh sebagai garuda.”

“Kamu” dalam kutipan di atas adalah sang “Aku” itu. Dan “aku” itu adalah seniman. Sebaiknya, kita tidak akan meneruskan bahwa seniman adalah (juga) manusia, sebagaimana belakangan ini kerap dipetik sebagai apologi, sebagai suatu alasan untuk berbuat salah, sebagai sesuatu yang (memang) kodrati. Kalau semua urusan tentang berbuat salah dikembalikan kepada “fitrah” sebagai manusia, maka konstruksi “aku” di sana adalah “aku” yang munafik. Bukankah kita sudah tahu kalau kita manusia?

Profesi-profesi (dai, pejabat, pemain bola, sampai rocker) yang telanjur berbuat salah dan pada saat bersamaan kodrat manusia diajukan sebagai benteng terakhir, maka sebaiknya kita paham bahwa profesi itu memang bermasalah terhadap dirinya. Sangat tidak bijak kalau kita menjalani hidup ini dengan nafsu binatang dan seketika –setelah berbuat salah– kita mengaku bahwa kita (toh) manusia (juga). Kalau saja kemelaratan hidup adalah sebuah kesalahan, maka adilkah kita menerima takdir bahwa kita hanyalah manusia? Aku melarat maka aku manusia? Tentu tidak. Kalau seseorang itu benar, maka itu karena profesinya. Kalau seseorang itu salah, maka tiba-tiba dia akan mengaku bahwa dia (hanyalah) manusia. Logika di situ jadi aneh. Sekali lagi, itu mencirikan bahwa “aku” di sana hanyalah “aku” yang munafik. Dari perspektif pemikiran S. Sudjojono, silogisme semacam itu jelas tidak berlaku.

Lagi pula, sesungguhnya bukan itu yang diinginkan oleh “aku” dalam sesuatu yang nanti kita sebut modernitas atau siapa saja yang berkehendak untuk menjadi manusia modern. Dan tampaknya, S. Sudjojono paham betul. Maka –berbeda dengan profesi-profesi lainnya– profesi seniman, dalam pemikiran S. Sudjojono adalah profesi di mana sang “aku” akan selalu berbuat salah. “Aku” yang tidak hanya mau enaknya saja, tapi “aku” yang membuka diri terhadap momen-momen kesalahan, apa pun itu, serta tidak serta-merta melempar profesi yang ada ke keranjang sampah. “Aku” seniman adalah aku yang senantiasa gelisah. Pada gilirannya, mengatakan “iya” kepada kebenaran berarti membuka moment-moment kesalahan untuk tidak membiarkan (misalnya) sejarah untuk selalu berperan sebagai sistem tunggal kebenaran.

Kebenaran, bagi S. Sudjojono berarti kehendak menempuh sekaligus suatu gambaran atas kejelekan-kejelekan, suatu keberanian untuk membiarkan kesalahan. Kebenaran, dengan demikian merupakan puncak kulminasi seorang seniman. Maksud kebenaran dalam pemikiran S. Sudjojono lebih pada tugas, etos, yang dalam pandangan Michel Foucault (1926-1984) sebagai suatu aktivitas truth-teller, parrhesiast yang tidak memimpikan kebenaran universal. Dari persamaan ini kita akan memahami bahwa penyampai kebenaran (parrhesiast) dalam pandangan S. Sudjojono tidaklah analog dengan nabi, guru atau orang bijaksana. Sang penyampai kebenaran itu lebih pada keberanian bicara secara jelas, tegas, lengkap dengan segala risikonya. Yakni seorang yang berani “memproblematisasikan” dirinya dengan situasi terkini. “Pendeknya dia harus berkata meskipun masyarakatnya mengempit dia mati. Nama dan kehormatan harus berani melepaskannya.”

Sang “aku” seniman bukanlah identitas dalam KTP, akan tetapi identitas yang terus-menerus percaya bahwa “aku” adalah “aku” yang akan selalu bermasalah di dalam pemenuhan konstruksinya. Dalam konteks sejarah seni rupa, “aku” di sana adalah projek kesadaran terus-menerus, bukan pemberian yang telah dikodratkan. Mengingat pertumbuhan seni rupa modern Indonesia berlangsung di masa kolonial Belanda, maka saat itu S. Sudjojono menginginkan terciptanya “aku” yang bukan pemberian dari penjajah secara cuma-cuma.

Apakah seniman itu manusia? Belum tentu, sebab “aku” adalah binatang jalang, tegas Chairil Anwar. Nalar ini mungkin tidak selaras dengan nalar umum yang berlaku di masyarakat. Tentu saja, kita akan mengatakan bahwa jalur ditemukannya “aku” seniman berbeda dengan penemuan “aku” dalam keprofesian yang lain. Senapas dengan Chairil (walaupun S. Sudjojono terlebih dahulu memulai projek “aku”), “aku” yang diinginkan adalah aku yang antikodrati, yaitu “aku” yang selalu ingin berpaling dari takdir.

Refleksi pemikiran di atas, saya peroleh setelah melihat karya-karya gambar empat “seniman” muda: Trie Aryadi, Luky Supriadi, Mujahidin Nurahman, dan J. Ariadhitya Pramuhendra (Hendra), yang kita nikmati hari ini di lembar-lembar Khazanah-Pikiran Rakyat. Pameran seni rupa dalam koran, bolehlah kita sebut demikian. Mereka semua masih menempuh pendidikan di Studio Seni Grafis-ITB dan tengah menempuh tugas akhir sarjana. Secara kebetulan karya-karya mereka berminat memunculkan kegelisahan identitas. Atau, katakanlah, kegelisahan yang ingin “memperoblematisasikan” dirinya dengan situasi terkini.Dengan mempertanyakan “siapakah aku?” secara sadar, mereka tengah mengulang kembali lontaran S. Sudjojono pada tahun 1940-an: “siapakah aku (seniman)?” Konsep tentang diri (self) harus diciptakan dengan cara terus mempertanyakan apakah hari ini? Apakah situasi terkini dari kesadaran sang-self tersebut? Sebagai seniman, kata S. Sudjojono, salah satunya adalah tugas untuk mempertanyakan terus apakah seni itu?

Gambar Trie Aryadi adalah self-portrait-nya sendiri dalam sebuah gestural personal. Dalam “Here I Am #1”, tubuh di sana tampak pasrah, matanya meram, memperlihatkan jantung (qalbu) yang tengah terburai. Di sekujur tubuh, tumbuh pucuk-pucuk pohon kecil.Gambar Aryadi dinyatakan sebagai pernyataan, “inilah saya” yang mengempaskan diri dalam pencarian sang “aku”. Bercak darah pada jantung yang terburai menjelaskan satu hal, saya kira itu adalah self diagnosis, suatu kerja introspeksi diri atau pemeriksaan batin (examination of conscience). Aryadi, tentu saja, tidak bermaksud untuk mengelola qalbu agar selalu benar dan benar sebagaimana yang tengah digandrungi masyarakat belakangan ini.

Gambar Luky Supriadi juga menghadirkan “identitas”-nya yang terbelah. Sebuah foto diri yang biasa kita peroleh dalam KTP. Dalam karya “Biner” (cat air di atas kertas, 2006), Luky menawarkan kita bahwa identitas seseorang itu terbentuk dari sekian identitas orang lain. Luky berusaha memercayai bahwa identitas akan selamanya tidak stabil. Dia akan terus paradoksal dalam proses aktualisasi. Lebih jauh, Luky ingin menggumamkan kelemahan-kelemahan identitas yang, kalau kita kaitkan dengan wacana orientalisme, konstruksi mengenai subjek manusia di luar Barat, adalah sang lain itu. Kita berada di pinggir batas (margin) yang paling jauh. Identitas di sana dipandang sebagai mode of discourse yang terdiri dari jalinan-jalinan rumit akibat proses akulturasi dan inkulturasi dalam wujud kosakata, tuturan, tulisan-tulisan, doktrin, birokrasi, sekolah, institusi sosial, dan sebagainya.

Karya J. Ariadhitya Pramuhendra (Hendra) dikerjakan di atas kertas dengan goresan arang. Sebagaimana Trie Aryadi maupun Luky Supriadi, Hendra memunculkan sosok tubuhnya. Pada karya “Stand” dan “Sitting Alone” (2006), tubuh Hendra digambarkan samar-samar (blur), layaknya resolusi rendah dalam potret. Potret dirinya tidak setegas lukisan potret Hendra Gunawan, S. Sudjojono maupun Affandi. Sebaliknya, Hendra ingin menyatakan keraguannya terhadap segala yang ingin memastikan identitas. Tubuh itu berdiri sebagai bayang-bayang seniman sekaligus sebagai suatu ingatan. Hendra menyuarakan kembali wacana identitas yang dibayangkan. Nun, jauh di sana, beberapa puluh tahun yang lalu, identitas sang “aku” yang pernah ditemukan S. Sudjojono samar-samar diterima generasi Hendra sebagai interogasi ulang atas diri. Pada gilirannya, manifestasi karya gambar Hendra dinyatakan sebagai generasi baru dalam dunia seni rupa yang tengah memasuki wilayah abu-abu.

Berbeda dengan tiga kawannya, Mujahidin Nurahman mempertanyakan “aku” dengan cara lain. Dia tidak menghadirkan potret dirinya, melainkan meminjam analogi sosok manusia. Karya “Hew…hew…hew #1”, Mujahidin memunculkan isu “abnormalitas” manusia. Tampak makhluk-makhluk berparas ganjil Abad Kegelapan dalam posisi yang absurd. Seolah, Mujahidin ingin menyorot tingkah laku sang “aku” yang terpinggirkan oleh “aku” yang lain. Yaitu, subjek yang kita nyatakan sehari-hari sebagai “orang gila” atau identitas yang dimarginalkan. Menilik dari sudut ini, diskursus mengenai norma (litas) dalam struktur masyarakat dipertanyakan. Sekali lagi, tubuh di sana bukanlah yang patuh atau tunduk pada kelaziman. Juga bukan yang harus tunduk pada pengelolaan qalbu, tetapi tubuh (organik) yang membiarkan dirinya sebagai seseorang yang berbeda.

Kembali ke pokok sang “aku” sebagai penanda modernitas dan juga mengulang pembacaan kita atas temuan “aku” versi S. Sudjojono dalam seni rupa, maka kita bisa menilai bahwa “aku” (seniman) dipahami sebagai konfrontasi terhadap kekinian. Saya cenderung mengatakan bahwa seniman-seniman muda ini mengingatkan kembali bahwa menjadi “manusia modern” adalah menjadi “aku” yang mempertanyakan dirinya terus-menerus. Saya tidak akan bosan mengatakan bahwa “aku” yang modern dalam pandangan S. Sudjojono merupakan “aku” yang tidak berada dalam sebuah periodisasi sejarah namun suatu sikap ahistoris atas situasi aktual (aktualisasi). Lebih jauh, kemodernan itu mirip dengan dandysme-nya Baudelarie yang bagi Foucault (1984), merupakan suatu keinginan mengempaskan diri sebagai objek penggarapan yang kompleks.

Saya percaya, makna-makna itu akan menjadi sangat berbeda kalau kita memeriksa kembali seluruh tulisan sejarah seni rupa modern Indonesia dari buku-buku sejarah seni yang pernah terbit. Sebab di sana dibayangkan bahwa seni rupa modern kita terbentuk “begitu saja” karena berdirinya Persagi tahun 1938, atau beberapa puluh tahun setelah masa Raden Saleh, itu pun tanpa keterangan yang memadai. Implikasinya, kita diyakinkan oleh sebuah kepercayaan bahwa paradigma seni rupa modern kita adalah babakan-babakan sejarah. Tafsir yang lebih gagah, paradigma seni rupa modern kita adalah nasionalisme. Padahal, maksud-maksud S. Sudjojono (yang sering kali dipakai untuk melegitimasi kemodernan seni rupa Indonesia) tidaklah sesederhana itu. Saya pribadi percaya, pameran gambar dalam koran hari ini sekurangnya mengajak kita untuk menguji ulang kebenaran sejarah. Tanyalah terus, siapakah aku?***

Penulis, pengamat, kurator, kritikus seni.

sumber:  pikiran rakyat

1 Comment

  1. February 12, 2007 at 12:11 pm

    Tulisannya bagus, saya suka membacanya. Salam dari Batam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: