Bung Karno dan Seni Rupa

Oleh Agus Dermawan T

Soekarno atau Bung Karno. Tokoh yang satu ini, dengan segala jasa dan kontroversinya, telah begitu lama bertahan dalam keakraban di sanubari bangsa Indonesia. Rasanya tak berlebihan bila Intisari menurunkan sebuah trilogi tentang dia, diawali dengan kisah di seputar cintanya pada seni rupa.

Tiga puluh lima tahun lalu ia dicatat sebagai presiden yang paling banyak memiliki koleksi lukisan di dunia. Seni lukis adalah gairah hidupnya. Itukah sebabnya, setelah empat tahun “diasingkan” dan dipisahkan dari seni lukis, Bung Karno meninggal?

Hubungan yang amat lekat antara Bung Karno dengan seni rupa, terutama seni lukis, telah menjadi mitos. Namun sejauh ini orang lupa mempertanyakan hal subtansial yang menjadi hulu dari semua itu: dari mana muasal kedekatan Bung Karno dengan seni lukis? Lebih spesifik lagi, dari mana sumber bakat Bung Karno atas seni lukis, sehingga ia sanggup muncul sebagai kreator, selain sebagai kolektor? Bung Karno sempat mengungkapkan itu kepada pelukis Dullah.

“Ingat, aku adalah anak Ida Ayu Nyoman Rai, keponakan Raja Singaraja, wanita dari pulau Bali”.

Dari situ sebetulnya Bung Karno ingin mengungkapkan mengapa dirinya lekat dengan kesenian. Seperti semua orang tahu, Bali adalah pulau seni. Di negeri ini seni memang dicipta dalam kerangka filosofis yang berhubungan dengan ritual, dengan religi. Sehingga kesenian, seperti seni rupa adalah sesuatu yang niscaya untuk diciptakan. Semua seni dibikin untuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi. Hingga semua orang Bali yang membuka indera matanya langsung bersentuhan dengan benda-benda upacara yang bersifat artistik seperti cili, lamak, canang, sarad, ubag-abig, sampai lukisan dan arsitektur.

Ida Ayu Nyoman Rai tentu menyimpan pengalaman estetik semacam itu ketika mengandung Bung Karno. Persepsi mendalam tersebut merasuk ke dalam darah. Dalam kata lain, bakat seni rupa memang sudah menggeliat sebelum Bung Karno muncul di dunia, 6 Juni 1901 di Blitar, Jawa Timur.

Karena itu, apresiasi Bung Karno atas seni rupa tidak terbatas kepada karya-karya yang tercipta belaka. Tetapi juga pada orangnya, atau kreatornya. Karena ia merasa, dirinya adalah setara dan sedarah dengan para kreator itu sendiri. Sitor Situmorang, budayawan dan penyair terkemuka pernah mengungkap itu, “Perasaan kesetaraan menyebabkan Bung Karno sangat menghormati ide-ide kesenian dari orang lain.”

Hal yang sama juga dikisahkan oleh pelukis Hendra Gunawan. Peristiwa yang terjadi tahun 1946 adalah sebuah amsal menarik. Indonesia merdeka baru berusia setahun. Tapi Bung Karno

sudah ingin merayakannya dengan pesta seni lukis. Untuk merealisasikan perhelatan itu, ia meminta Hendra Gunawan berpameran tunggal. Lantas pagelaran pun diadakan di gedung KNI (Komite Nasional Indonesia) di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Untuk acara penting itu Bung Karno akan hadir secara protokoler, sebagaimana mestinya pejabat negara.

Namun, Hendra agaknya ingin membuat sebuah upacara yang lain. Pelukis itu diam-diam mengumpulkan puluhan gelandangan. Dengan “kostum” asli kere para gelandangan disiapkan menjadi tuan rumah pameran. Tentu saja protokol Presiden menolak gagasan itu. Namun Hendra bersikukuh. Ketika pameran dibuka, sebuah drama terjadi. Bung Karno disambut para gelandangan. Tentu saja Sang Pemimpin terperanjat luar biasa melihat kenyataan di hadapannya. Namun, kemudian ia mengangguk-angguk. Hendra segera dipeluk. Orang melihat Bung Karno menitikkan air mata.

“Setiap orang berhak melihat lukisan saya. Dan saya berhak memperkenalkan karya-karya saya kepada siapa saja,” kata Hendra. Bung Karno amat menghargai gagasan “gila” itu. Menurut dia, setiap gagasan seniman, apa pun bentuknya, dianggap menyimpan nilai-nilai kemanusiaan. Bagi Bung Karno gagasan seniman adalah juga obsesi di benaknya sendiri.

Pilihan kedua: jadi pelukis

Bung Karno berkali-kali berkata, apabila ia tidak menjadi politikus, pilihan kedua adalah penjadi pelukis. Sebab tanpa seni lukis ia merasa akan hidup pendek, akan cepat mati. Lantaran itu, ketika sebagai presiden ia akhirnya disibukkan dengan seribu urusan negara, bakat melukisnya tak henti diasah. Dalam berbagai kesempatan ia melukis, yang umumnya dikerjakan di atas kertas dengan cat air. Ini meneruskan kegemarannya pada masa muda, yang suka menciptakan karikatur untuk koran Pikiran Rakyat, Bandung. Ia mendapat “bimbingan” dari Dullah, pelukis Istana Kepresidenan 1950-1960. Juga dari Lee Man-fong dan Lim Wasim, pelukis Istana periode berikutnya.

“Meski sering kenyataannya berbalik. Acapkali Bapak (Bung Karno, Adt) akhirnya lebih banyak membimbing yang membimbing. Lha Bapak memang ngeyel-an (suka membantah-Red),” kata Dullah.

Tapi Bung Karno tahu, hidupnya suatu ketika akan dipadati oleh urusan-urusan sosial dan politik yang rumit, sehingga diyakini akan sulit mencari waktu untuk melukis. Karena itu ia segera memposisikan dirinya dengan strategis: sebagai kolektor. Di tengah kunjungannya sebagai kepala negara di manca benua, Bung Karno selalu “mencuri” kesempatan hunting lukisan atau patung. Begitu juga bila ia berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia.

Di Yogyakarta ia menyempatkan diri ke Sanggar Pelukis Rakyat, atau ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Di Bali ia menyelusup Ubud, menemui Rudolf Bonnet, mengagumi lukisan Anak Agung Gde Sobrat, menghayati ulah Ida Bagus Made Poleng, atau menyaksikan pameran di studio Walter Spies. Di Sanur ia mampir di rumah seni Le Mayeur de Mefres. Dengan uang seadanya, bahkan juga dengan mencicil, ia membeli lukisan-lukisan yang disukai.

Ketika lukisan-lukisan dan patung koleksinya mulai banyak hingga perlu penataan serius di Istana, ia mencari seseorang untuk mengaturnya. Dengan begitu ia memerlukan seniman, kurator, konservator, displayer andal. Saat itulah Dullah ditunjuk.

Dullah berkenalan dengan Bung Karno pada 1944, lewat perantara pelukis S. Sudjojono. Mendengar promosi Sudjojono, Dullah diminta Bung Karno untuk bergabung dalam Putera (Pusat Tenaga Rakyat) pimpinan Empat Serangkai (Bung Karno, Mohamad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Mansyur). Organisasi ini mendampingi pusat kebudayaan Jepang kala itu, Keimin Bunka Sidhoso. Lima tahun setelah Putera bubar, Dullah diboyong ke Istana.

Banyak publik umum menyebut, Basoeki Abdullah juga pelukis Istana Presiden. Keliru, Basoeki Abdullah tidak pernah mendapat jabatan itu di Indonesia.

Stimulator

Tak dapat disangkal, aktivitas dan keseriusan Bung Karno dalam mengoleksi seni rupa pada masa itu merupakan stimulasi para petinggi negara yang lain. Bahkan juga bagi masyarakat luas.

Politikus Ali Sastroamidjojo misalnya, menyenangi lukisan tradisional Bali lantaran uar-uar Bung Karno. Meski Bung Karno sendiri kurang menyukai seni yang njelimet seperti itu. Tokoh seperti Chaerul Saleh (pernah menjadi salah satu wakil perdana menteri – Red.) sampai Jenderal Saboer (Brigjen TNI Mochammad Saboer pernah menjadi komandan resimen Cakrabirawa – Red.) dekat dengan lukisan juga karena Bung Karno. Dalam berbagai kunjungan ke acara pameran, seperti yang diadakan di Hotel Des Indes (pernah jadi Duta Merlin, dan kini Carrefour) di Jakarta, Bung Karno selalu mengajak para menteri dan kerabatnya.

Untuk menghidupkan minat masyarakat umum, Bung Karno mengajak para pemilik modal membuat studio-studio seni rupa. Di studio ini diharapkan para pelukis atau pematung, yang kala itu umumnya tidak beruang, bisa berkarya. Lalu terbilanglah nama Tjio Tek Djien, yang mendirikan studio di bilangan Cideng, Jakarta, menjelang tahun 1960. Di sini banyak orang bergabung. Di antara jajaran pelukis itu, terdapat nama Trubus dan Lim Wasim, yang di kemudian hari dikenal sebagai pelukis andal. Mereka bekerja dengan gaji harian Rp 1.000,- dengan kewajiban menyelesaikan minimal sebuah lukisan dalam sehari. Bayaran ini cukup besar. Bandingkan dengan gaji Pelukis Istana Presiden kala itu yang “cuma” sekitar Rp 5.000,- per bulan.

Untuk distribusi, sosialisasi, dan merangsang market seni rupa, Bung Karno juga mengharap pengusaha mulai mendirikan galeri. Maka di Sanur berdiri Galeri Pandy milik James Pandy.

Galeri ini menjadi etalase seni lukis Indonesia modern bagi tamu asing yang ke Bali. Di Jakarta Pusat dan Selatan juga berdiri sejumlah galeri.

Sementara itu, di Istana Kepresidenan, Bung Karno tak lupa membawa tamu-tamunya untuk menyaksikan koleksi lukisan atau patung yang terpajang. Dari pejabat tinggi negara asing, sampai rombongan bintang film. Tak jarang para diplomat berbagai negara diberi introduksi soal lukisan sebelum memulai diplomasi politik. Di sini Sang Presiden bisa bercerita banyak ihwal tema sebuah lukisan, lebih dari pelukisnya sendiri.

Di mata publik Bung Karno diidentikkan dengan perjuangan dan politik. Atau segala sesuatu yang bersifat revolusioner. Sehingga publik juga dengan gampang menafsir, pasti koleksi Bung Karno menyimpan paradigma “gelora politik, perjuangan, dan revolusi”. Lalu, karena Bung Karno telah dianggap sebagai seorang patronis, paradigma itu diduga akan menular ke segenap studio pelukis Indonesia.

Tafsiran itu ternyata sungguh keliru. Karena pilihan dan koleksi seni lukis Bung Karno sangatlah beragam. Yang terbanyak justru lukisan tentang manusia (wanita), lanskap, lingkungan, bunga, dan alam benda. Sementara yang bertema “revolusioner” tak lebih dari 10 persennya belaka. Sehingga jauh dari dominan.

Seperti dituturkan Sitor Situmorang, Bung Karno memakai “paradigma estetik” dalam menilai sebuah lukisan. Ia melihat karya secara “sastra”, secara piktoral, tidak literer (menilai secara keseluruhan, bukan detail satu per satu – Red). Bung Karno tidak pernah terjebak kepada aspek tematik.

Pada bagian lain budayawan Ir. Haryono Haryo Guritno yang pernah jadi ajudan Bung Karno mengisahkan, ada syarat akademis yang sungguh dituntut oleh Presiden RI pertama itu dalam menghadapi presentasi seni lukis. Itu adalah teknik. Dengan teknik, segala yang digubah akan hadir sebagai keindahan. Bung Karno memang acap berujar, “A thing of beauty is a joy forever.” Atau, barang indah adalah kenikmatan yang kekal. Pepatah itu didekap sebagai prinsip.

Guruh Sukarno Putra juga menuturkan itu. Gelora revolusi yang ada dalam diri ayahnya, dan lukisan-lukisan yang menjadi koleksinya, tidak bisa mutlak dikaitkan. Lukisan-lukisan revolusi yang ada dalam koleksi Bung Karno memang ada, namun itu berkait dengan konteks, dengan situasi dan aspirasi bangsa.

Sementara keluasan jiwa estetik Bung Karno atas nama pribadi dalam mengapresiasi semua jenis dan tema lukisan tiada berbatas. Sehingga, hanya orang berpandangan sempit dan hiperbolik yang melihat nilai kesenilukisan Bung Karno hanya pada lingkup “tema perjuangan”. Begitu juga sebaliknya, hanya orang berwawasan dangkal yang menatap dunia seni lukis Bung Karno melulu pada wilayah “wanita cantik”. Walau ihwal tema wanita cantik sempat terbit berbagai cerita menarik, dan bahkan menonjol dalam berbagai perbincangan. Karena memanggayeng (seru – Red) untuk digunjingkan. Seperti tertulis dalam buku Lim Wasim, Pelukis Istana Presiden.

Diceritakan, Wasim mendapat opdract (pesanan -Red) melukis wanita telanjang, berdasarkan foto yang didapatkan Bung Karno. Setelah Wasim menyelesaikan lukisan pesanan dijuduli “Hendak Mandi” tersebut, Bung Karno meminta foto itu kembali. Foto itu kemudian diserahkan ke pematung Sulistyo. Sang pematung diminta untuk menggubahnya dalam bentuk patung seukuran tinggi orangnya, 167 cm. Patung tersebut diberi judul “Bergaya”. Kedua karya ini kemudian tertera dalam kitab “Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Sukarno”.

Kenapa Bung Karno menginginkan seorang model dalam pose yang sama digubah dalam lukisan dan patung sekaligus? “Ini adalah keindahan abadi,” katanya.

Bung Karno menolak keras bila gagasan itu dianggap pornografis. Ia mengharap, agar orang tidak selalu melihat keindahan tubuh wanita semata-mata dari pandangan moralistik, tapi seharusnya juga dari aspek estetis. Lalu ia pun sering mengutip kata-kata Kahlil Gibran, pujangga dan mistikus Lebanon kenamaan, “Orang yang mengenakan moralitasnya melulu sebagai pakaian, yang paling baik bagi dirinya justru adalah telanjang.”

Ia juga acap mengurai kata-kata Palladas, pemikir Yunani tahun 400. “Semua orang diangkat atau dilahirkan ke bumi dengan keadaan telanjang, dan semua orang diturunkan ke bumi juga dalam keadaan telanjang. Tuhan memberikan yang terbaik bagi orang yang diangkat dan diturunkan.”

Lantaran itu, menurut Wasim, Bung Karno pasti kecewa ketika puluhan lukisan dan patung figur telanjang koleksinya disekap dalam kamar khusus di Istana Bogor, pada masa Orde Baru atas instruksi Ibu Tien Soeharto. Sehingga tidak bisa dinikmati oleh publik umum.

Makhluk kelas satu

Namun, sebanyak-banyaknya peristiwa menarik yang timbul dari jagad keseniannya, yang paling mengesankan dari kehidupan seni Bung Karno adalah hasratnya untuk menyamakan kedudukan seniman dengan profesi lain. Seniman disejajarkan dengan politikus, pengusaha, dokter, insinyur. Sehingga dalam gelora membangun negara dan bangsa, seniman dilibatkan. Maka, revolusi diimbuh kerja seniman. Diplomasi harus melibatkan seniman. Mengatur rakyat harus dengan sentuhan seniman. Menata kota dan lingkungan harus dengan visi seniman.

Sejarah mencatat, Bung Karno pernah mengangkat pelukis Henk Ngantung sebagai Gubernur Jakarta. Seniman pun bisa keluar masuk Istana Negara.

Sampai ujung tahun 1965, koleksi lukisan dan patung Bung Karno lebih dari 2.000 buah. Angka ini membawa Bung Karno tercatat sebagai Presiden yang paling banyak memiliki koleksi seni rupa di seluruh dunia. Di dalamnya tak hanya menyimpan nama para maestro Indonesia, tetapi juga tokoh besar seni lukis dunia, seperti Diego Rivera, Ito Sinshui, William Russel Flynt, dan sebagainya.

Koleksi itu telah disusun sebagai buku. Yang pertama terbit tahun 1956 dalam 2 jilid. Tahun 1961 terbit 2 buku selanjutnya, yang semuanya disusun oleh Dullah. Tahun 1964 muncul 5 jilid lain yang merupakan pelengkapan, karena koleksi Bung Karno terus bertambah. Buku ini disusun oleh Lee Man-fong. Semua kitab itu mencantumkan sekitar 500 lukisan pilihan. Tapi Bung Karno menilai masih ada sekitar 500 karya pilihan lain yang

patut dibukukan. Maka tahun 1966, untuk merayakan ulang tahun ke-65, direncanakan terbit jilid VI sampai X, susunan Lim Wasim. Namun, kerusuhan politik meletus. Bung Karno pun lengser.

Bung Karno wafat pada 20 Juni 1970, setelah empat tahun dalam “pengasingan”. Kita tak tahu, Putra Sang Fajar ini redup karena sekadar sakit, atau lantaran selama 40 bulan dipisahkan dari dunia seni lukis yang sebelumnya memberinya gairah hidup dan napas panjang. (Agus Dermawan T./kritikus seni rupa Indonesia, penyusun buku Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan 2001)

Diambil dari http://www.indomedia.com/intisari/2001/Apr/BK.htm

2 Comments

  1. lyla said,

    August 1, 2009 at 4:21 am

    saya fans berat bung karno

  2. lazio yono said,

    April 25, 2012 at 6:54 pm

    seandainya presiden kita yang sekarang berjiwa seni dan mengerti tentang seni rupa…mungkin kehidupan seniman akan bisa terangkat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: