200 Tahun Raden Saleh

Makam Pelukis Antikolonial Itu Dipugar

Raden Saleh, yang nama lengkapnya Raden Saleh Syarif Bustaman, identik sebagai pelukis Indonesia yang sudah bersentuhan dengan dunia modern pada zaman penjajahan Belanda. Almarhum lahir pada 1807 di Desa Terbaya, Semarang, Jateng, dan meninggal di Bogor, 23 April 1880. Pada zaman itu memang dialah satu-satunya pelukis Indonesia yang profesional setelah menimba ilmu kurang lebih 23 tahun (1829-1852) di Eropa.

Jangan heran kalau nama Raden Saleh tetap abadi tidak hanya dalam percaturan dunia seni rupa, tetapi juga dalam kacamata pemerintah Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan pemugaran makam Raden Saleh yang berdampingan dengan makam istri keduanya, Raden Ayu Danudiredjo, di Gang Makam Raden Saleh, Jalan Pahlawan, Bondongan Empang, Bogor, Jawa Barat. Makam ini pertama kali dipugar oleh pemerintah atas prakarsa mantan Presiden RI Ir Soekarno tahun 1953 dengan arsitek Ir Silaban.

Raden Saleh pertama kali menikah dengan Constancia Winkelhagen (1856) dan tinggal di rumah yang mewah di Jalan Cikini (sekarang RS Cikini, Jalan Raden Saleh) dan memiliki sebuah kebun binatang (sekarang kompleks Taman Ismail Marzuki).

Lalu almarhum menikah untuk kedua kalinya dengan RA Danuredjo (1866) yang masih keturunan Hamengku Bowono VI. Setelah menikah dengan wanita pribumi, mentalitasnya yang kebarat-baratan berubah drastis. Ia memilih tinggal di Bogor hingga akhir hayatnya.

Memperingati 200 tahun kelahiran Raden Saleh (2007), area makam Raden Saleh dan istrinya dipugar atas fasilitas Galeri Nasional Indonesia, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Peresmian pembangunan fasilitas publik makam Raden Saleh dilakukan oleh Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar Drs Tjetjep Suparman, MSi, Rabu (30 April 2008). Acara yang berlangsung di tengah guyuran hujan lebat dengan undangan duduk di bawah tenda itu dihadiri oleh sejumlah undangan, antara lain seniman, pejabat setempat, dan Penasihat Pers dan Kebudayaan Direktur Erasmus Huis Paul J A M Peters.

Area makam yang berlokasi di sebuah gang kecil, sekitar 100 meter dari jalan raya itu memiliki fasilitas pendopo dan plaza yang ditata sederhana tapi apik. Pada dinding di belakang makam terpajang tiga buah lukisan yang waktu itu baru dilukis oleh Ibrahim Basalmah dan kawan-kawan. Mereka melukis Gunung Merapi di mana Raden Saleh pernah melukis Gunung Merapi, potret Raden Saleh, dan sosok seorang pelukis berambut kucir, bertopi bundar, membawa ransel yang membelakang, berjalan menuju masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, di pendopo terpajang beberapa diorama tentang Raden Saleh dan karyanya. Di kompleks makam itu, di depan pendopo, tak jauh di belakang dinding makam Raden Sakeh, ada beberapa makam tanpa nisan.

Dalam kesempatan itu diluncurkan buku Lukisan-Lukisan Raden Saleh Ekspresi Anti Kolonial. Buku yang ditulis I Ketut Winaya itu diterbitkan Galeri Nasional Indonesia. Buku itu merupakan bagian dari sebuah desertasi program doktor I Ketut Winaya di Universitas Udayana, Bali (2007). Dasar penulisan buku yang disunting oleh M Agus Burhan dan Pudentia ini ialah ingin mengkaji lukisan-lukisan Raden Saleh yang merupakan ekspresi antikolonial dan mentalitas Raden Saleh setelah bersentuhan dengan budaya modern.

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus “Andre” Sukmana, mengatakan bahwa penelitian Dr I Ketut Winaya ini diterbitkan menjadi sebuah buku atas prakarsa Dirjen Nilai Budaya, Seni, dan Film. Hal ini dilatarbelakangi prestasi Raden Saleh di negeri Belanda dan negara Eropa lainnya, sementara banyak ahli dan peneliti asing menerbitkan buku tentang Raden Saleh dan tulisan tentang Raden Saleh.

Buku setebal 178 halaman ini berisi enam bab, antara lain “Raden Saleh Syarif Bustaman dan Gaya Lukisannya dalam Perkembangan Seni Lukis Modern di Indonesia pada Zaman Kolonial Belanda” dan “Lukisan-Lukisan Raden Saleh dan Ekspresi Antikolonial Tahun 1852 – 1880” setelah kembali ke Indonesia.

Beberapa lukisan Raden Saleh yang menggambarkan perlawanan terhadap penjajahan antara lain “Perkelahian dengan Singa” dan “Gunung Merapi dan Merbabu”. Kedua lukisan itu dibuat tahun 1870 dengan gaya romantisme paradoks. Kedua lukisan itu sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda atas perlakuan terhadap dirinya yang semena-mena. Tanpa prosedur, ia ditangkap dan diadili oleh pemerintah kolonial Belanda karena dituduh terlibat dalam pemberontakan Bekasi 1869, padahal keterlibatannya dalam pemberontakan itu sulit dibuktikan. Ketika pemimpin pemberontak, Bassa Kolot, yang menyamar sebagai Raden Saleh telah ditangkap, maka ia pun dilepas, tetapi terus diawasi (hlm 142).

Lukisan lainnya memiliki makna kepahlawanan antipenjajah seperti “Penangkapan Diponegoro” (1857) yang berukuran 112 x 178. Pangeran Diponegoro dilukiskan mengenakan sorban berwarna hijau dan di atas sorban itu ada warna merah putih. Diponegoro berjubah putih tanpa alas kaki. Sorban yang ada warna merah-putihnya itu sebagai simbol perjuangan dan perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda.

Pada lukisan “Antara Hidup dan Mati” (1848) digambarkan seekor banteng besar sebagai lambang bangsa Indonesia melawan dua ekor singa jantan dan betina sebagai lambang kolonial Belanda.

Sebagai pelukis, Raden Saleh dimunculkan sebagai legenda karena kualitas lukisan-lukisannya memang istimewa. Lukisan-lukisannya mempunyai aura yang sanggup menahan keabadian (hlm 144). (Susianna)

sumber: suara karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: