Pasar Seni ala Tionghoa, Tanya Kenapa?

Agus Dermawan T, Pengamat Seni dan Penulis Buku-buku Seni Rupa

Kompas (Minggu, 12/11-2006) memuat tulisan Djuli Djatiprambudi berjudul Etnis China dan Dunia Pasar Seni Lukis. Tulisan itu menarik karena Djuli memang sedang serius menelusuri liku-liku peranan orang-orang Tionghoa dalam seni lukis Indonesia dalam kaitannya dengan kajian ilmiah. Hanya sayang, tulisan itu hanya mengungkap gerak komodifikasi seni orang-orang Tionghoa pada 20 tahun terakhir, yang sebagian besarnya dianggap “mengacaukan pranata seni rupa”. Dengan demikian tersimpul di situ bahwa gerak seni etnis Tionghoa pada kurun-kurun sebelumnya sungguh berbeda dan “lebih mulia”.

Tulisan ini, selain ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya tak ada “pranata seni rupa yang dikacaukan” seperti yang disinyalir Djuli, juga untuk mengungkap bahwa gerak komodifikasi orang Tionghoa atas seni sesungguhnya dari dahulu sampai sekarang sama saja.

Ihwal orang Tionghoa masuk dalam dunia komodifikasi, yang ujungnya menari di atas arena perdagangan, itu adalah soal opportunity atau kesempatan. Begitu ada kesempatan untuk memperdagangkan sesuatu (termasuk seni), mereka akan melakukannya dengan ringan hati.

Tionghoa pengusaha perantara

Dalam sejarah Indonesia, kaum Tionghoa telah melakukan perdagangan di Jawa sebelum orang Belanda datang. Semula mereka berhasil membina hubungan baik dengan para penguasa bumiputera di Banten (dulu: Bantam). Hubungan itu kemudian berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Para pengusaha Tionghoa itu umumnya menjadi penghubung antara pengusaha Indonesia dan para pengusaha di negara-negara lain (Leo Suryadinata, 2002).

Bahkan, di zaman Belanda, VOC lantas mengangkat pengusaha perantara yang sukses sebagai Chinese Offcieren (Opsir China), yang di Jawa dikenal sebagai Kapitan China.

Tugas Kapitan China salah satunya adalah menjelaskan segala peraturan yang diterapkan oleh Belanda kepada para pengusaha Tionghoa. Atas tugas itu biasanya Pemerintah Belanda lantas memberi kompensasi kepada Kapitan China untuk monopoli. Kapitan So Bing Kong, misalnya, diberi hak monopoli atas eksplorasi timah, pembuatan garam, dan pembuatan uang perak. Peluang seperti ini membuat seorang Kapitan China segera kaya. Dan kekayaan kapitan China merangsang orang-orang Tionghoa lain untuk meniru reputasinya: menjadi perantara dagang yang baik. Maka, tradisi mengintip kesempatan untuk jadi “perantara dagang” pun semakin tumbuh.

Tradisi mengintip kesempatan seperti itu terus berlanjut pada zaman setelahnya, sampai akhirnya menyentuh dunia seni rupa. Lantaran itu tradisi dagang seni rupa di Indonesia bukannya cuma berkembang setelah boom seni lukis 1987. Seratus lima puluh tahun lalu Josias Cornelius Rappard (1824-1898) telah merekam peran Tionghoa dalam dunia perdagangan seni lewat karya cat air berjudul Vendutie, seperti termaktub dalam kitab Dagwerk in Indie.

Di situ dilukiskan orang-orang Belanda, dengan bantuan tukang-tukang bumiputera, sedang memajang lukisan. Di antara kesibukan tampak beberapa orang Tionghoa sudah bernegosiasi harga (J De Loos-Haaxman, 1972). Karya-karya yang dibeli oleh orang-orang Tionghoa itu biasanya dijual lagi kepada kolektor Tionghoa pula. Karena itulah komunitas yang lebih lekat dan toleran dengannya.

Karena itu, jangan gusar apabila ada semboyan “Ada lubang, saya masuk”, seperti yang diucapkan oleh Tjio Tek Djien, seorang pengusaha yang akhirnya dikenang banyak orang sebagai “saudagar lukisan” tahun 1950-an.

Tjio adalah si Tionghoa yang dalam satu dekade mengumpulkan para pelukis dalam sebuah studio di kawasan Cideng, Jakarta. Pelukis itu dipaksa produktif dan dibayar harian. Kadang kala para pelukis juga diinstruksi membuat repainting karya pelukis ternama. Karya-karya yang tercipta kemudian didistribusikan ke berbagai toko seni (artshop) di Jawa dan Bali, yang sebagian besar juga milik orang Tionghoa. Banyak lukisan berkualitas yang lahir dari studio ini. Dan, tak sedikit pelukis yang kemudian namanya dikenal masyarakat, seperti Trubus dan Lim Wasim. Juragan Tjio bahkan memiliki akses dengan Istana Kepresidenan, lantaran proyeknya memang didukung Bung Karno.

Tiga dekade sebelumnya, seperti diungkap sinolog Universitas Indonesia CM Hsu, etnis Tionghoa telah merintis jalan perdagangan seni itu. Meskipun situasi kesenian yang dipetakan oleh orang-orang Belanda tahun 1920-1940 lewat aneka kunstkring (lingkungan seni) tak terlalu menyisakan peluang, sehingga peran Tionghoa sedikit undur ke belakang.

Tiga “er”

Raka Sumichan, kolektor fanatik Affandi, menuturkan bahwa pada zaman Belanda ada “tiga er” yang punya daya hebat untuk jadi kolektor. Mereka adalah “dokter”, “mister” (ahli hukum, pengacara) dan “anemer” (ahli teknik, insinyur). Mereka ini, selain berpendidikan tinggi juga dicatat sebagai kelompok masyarakat yang cukup berada. Pendidikan tinggi menghantarkan mereka menjadi apresian berkualitas. Sementara kekayaan membimbing mereka jadi kolektor. Menurut Raka, pada perempat pertama abad ke-20 cukup banyak orang Tionghoa tergolong “tiga er” itu.

Ketika Bung Karno sebagai Presiden RI memberikan penghormatan tinggi kepada karya seni rupa, sehingga iklim pengoleksian terbentuk, kesempatan mengomodifikasi lukisan segera menggetarkan naluri dagang seni orang-orang Tionghoa. Galeri-galeri pengusaha Tionghoa pun lahir. Dari Galeri Pik Gan dan Galeri Milly di Surabaya, sampai Galeri Banowati di Jakarta. Pada tahun 1950-1960 itu tercatat berderet-deret nama Tionghoa sebagai kolektor lukisan yang bermartabat. Dari Tan Sioe Hong sampai Mardanus. Dari Oei Boen Poe sampai Lukas Mangindaan.

Dan jangan lupa, para kolektor itu tak jarang yang kemudian membuka galeri, seperti Ong Pok Koey alias Joseph Solaiman, yang mendirikan Galeri Santi. Di sisi lain, pencinta seni rupa Tionghoa, seperti Tjokroatmodjo memosisikan diri sebagai penerbit komik, pengorbit nama Jan Mintaraga, Djair, Ganes TH, Sim, Hans Djaladara dan sebagainya. Tjokroatmodjo, yang akhirnya beralih profesi sebagai pengusaha stationery maskapai Garuda, pada hari tuanya dikenal sebagai kolektor lukisan terpandang.

Ketika mendirikan organisasi Yin Hua pada tahun 1955, Lee Man Fong tak hanya berpikir soal pengorganisasian para pelukis Tionghoa saja. Tetapi, juga bergagas pragmatis ihwal pasar, yang ia lihat potensinya di kalangan orang Tionghoa kaya di selingkup “tiga er”.

Atas hal ini lantas muncul kritikus komunikatif di majalah Star Weekly, Oei Sian Yok. Penulis yang sering menyamarkan namanya dengan sebutan “Pembantu Seni Lukis Kita” ini ingin memperluas pandangan bahwa di luar pelukis Tionghoa, berkiprah bagus pula para seniman bumiputera. Di sini tampak, komunitas seni rupa Tionghoa bergerak isi mengisi.

Pranata di tangan seniman

Tak bisa dimungkiri, kesempatan dagang adalah kunci dari tradisi orang-orang Tionghoa maen di lukisan. Maka, mari kita hitung, menginjak periode boom dan pascaboom seni lukis dalam 20 tahun terakhir, 95 persen dari 60 galeri yang lahir di Indonesia adalah milik orang-orang Tionghoa. Mereka melihat bahwa seni lukis (berkualitas) adalah materi komoditas. Mereka memainkan itu dengan berbagai macam gaya dan cara. Dari yang seolah idealis dengan bemper kurator, sampai yang terang-terangan cari uang. Harus diakui, sebagian besar upaya mereka menyenangkan dan kontributif kepada sejarah seni

Sekarang kita longok rumah-rumah lelang. Biro Larasati, Masterpiece, Borobudur, Sidharta, Cempaka yang sibuk melakukan lelang setahun dua kali itu adalah milik (dan dikelola) oleh orang-orang Tionghoa.

Sementara para peserta lelangnya hampir semua juga Tionghoa. Dari kolektor prestisius Oei Hong Djien, Tjahjadi Kumala, Jusuf Wanandi, Budi Setiadharma, Putra Masagung, Rudy Akili, Subandi Salim, John Mamesah, Wiyono Tanoko, Tossin Himawan, sampai pemilik galeri, art dealer, calo dan bocokok yang mencuri kesempatan kecil-kecilan.

Dari keriuhan kesempatan yang bukan main itu tentulah ada kenakalan-kenakalan, disengaja atau tidak disengaja. Dalam pengamatan, kenakalan seperti itu biasa terjadi di setiap waktu, lebih dari seabad, jauh sebelum boom lukisan terjadi. Namun, kenakalan-kenakalan tersebut sama sekali tidak pernah mengacaukan pranata seni rupa.

Kenapa? Pertama, karena semua itu sesungguhnya dimainkan di arena mereka sendiri dan untuk mereka sendiri. Kedua, lantaran ketertiban pranata seni rupa itu sesungguhnya seratus persen berada di tangan seniman, bukan di pangkuan pasar. Namun, ketika perupa dan “pengusaha perantara” mengikat perjanjian untuk bersekutu, harus diingat bahwa perupa telah keluar dari koridor lege artis (aturan seni), dan menjadi bagian dari bisnis komoditas seni itu. Ketiga, pasar seni rupa sesungguhnya tidak ada hubungan langsung dengan dunia penciptaan para perupa yang memiliki prinsip artistik dan menanam akar kuat di studio.

Jadi, sebaiknya, situasi itu justru harus disiasati dan dikelola oleh perupa sebagai stimulus. Dan setiap kasus di pasar bisa menjadi pelajaran kecil bagi para perupa, yang harus diakui sebagian besar dikenal kurang mampu mengartikulasi diri ke dalam masyarakat. Sebuah kekurangan yang membuat perupa merasa jadi pesakitan, gampang takluk, cengeng, dan mudah gusar.

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/19/seni/3099235.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: