3000 Dolar untuk Kartunis Indonesia

Kartunis Arif Sutristanto (35) mendapatkan penghargaan Grand Prize senilai 3000 dolar Amerika dalam kontes kartun yang diselenggarakan Asosiasi Kartunis Turki.

Kontes Kartun Nasreddin Hodja ini sudah yang ke-28. Diikuti sekitar 990 peserta dari 75 negara kontes ini diselenggarakan mulai bulan Februari dan ditutup akhir Bulan Juli lalu. Read the rest of this entry »

Al-Quran Menjadi Tema Sentral Lukisan Syaiful Adnan

Oleh Muharyadi

Ditengah-tengah tumbuh dan berkembangnya seni lukis moderen di tanah air, pelukis Syaiful Adnan kelahiran Saningbakar, Solok, Sumatera Barat 5 Juli 1957 yang telah 20 tahun bermukim dan menetap di Yogyakarta mungkin satu diantara sedikit pelukis kaligrafi arab yang tetap eksis di dunianya, hingga mengantarkannya berada dideretan papan atas seni lukis di tanah air.

Syaiful Adnan jebolan SSRI/SMSR Negeri Padang sekarang SMK Negeri 4 (jurusan seni lukis) dan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta ini, mulai menekuni dunia seni lukis kaligrafi Islam sejak tahun 1970-an dengan memiliki gaya baku istilah yang dipakai Syaiful Adnan seperti Thuluth, Naski, Muhaqqaq, Rayhani, Riqa’i, Taqwi atau Magribi yang masing-masingnya memiliki karakter. Read the rest of this entry »

200 Tahun Raden Saleh

Makam Pelukis Antikolonial Itu Dipugar

Raden Saleh, yang nama lengkapnya Raden Saleh Syarif Bustaman, identik sebagai pelukis Indonesia yang sudah bersentuhan dengan dunia modern pada zaman penjajahan Belanda. Almarhum lahir pada 1807 di Desa Terbaya, Semarang, Jateng, dan meninggal di Bogor, 23 April 1880. Pada zaman itu memang dialah satu-satunya pelukis Indonesia yang profesional setelah menimba ilmu kurang lebih 23 tahun (1829-1852) di Eropa.

Jangan heran kalau nama Raden Saleh tetap abadi tidak hanya dalam percaturan dunia seni rupa, tetapi juga dalam kacamata pemerintah Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan pemugaran makam Raden Saleh yang berdampingan dengan makam istri keduanya, Raden Ayu Danudiredjo, di Gang Makam Raden Saleh, Jalan Pahlawan, Bondongan Empang, Bogor, Jawa Barat. Makam ini pertama kali dipugar oleh pemerintah atas prakarsa mantan Presiden RI Ir Soekarno tahun 1953 dengan arsitek Ir Silaban. Read the rest of this entry »

Pasar Seni ala Tionghoa, Tanya Kenapa?

Agus Dermawan T, Pengamat Seni dan Penulis Buku-buku Seni Rupa

Kompas (Minggu, 12/11-2006) memuat tulisan Djuli Djatiprambudi berjudul Etnis China dan Dunia Pasar Seni Lukis. Tulisan itu menarik karena Djuli memang sedang serius menelusuri liku-liku peranan orang-orang Tionghoa dalam seni lukis Indonesia dalam kaitannya dengan kajian ilmiah. Hanya sayang, tulisan itu hanya mengungkap gerak komodifikasi seni orang-orang Tionghoa pada 20 tahun terakhir, yang sebagian besarnya dianggap “mengacaukan pranata seni rupa”. Dengan demikian tersimpul di situ bahwa gerak seni etnis Tionghoa pada kurun-kurun sebelumnya sungguh berbeda dan “lebih mulia”.

Tulisan ini, selain ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya tak ada “pranata seni rupa yang dikacaukan” seperti yang disinyalir Djuli, juga untuk mengungkap bahwa gerak komodifikasi orang Tionghoa atas seni sesungguhnya dari dahulu sampai sekarang sama saja. Read the rest of this entry »

« Older entries